Tanda Tanya Kembalinya Duit Nasabah WanaArtha Kala Aset Tak Sampai Rp 100 M | Drafmedia.com

Tanda Tanya Kembalinya Duit Nasabah WanaArtha Kala Aset Tak Sampai Rp 100 M | Drafmedia.com

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencabut izin upaya PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha (WanaArtha Life) per 5 Desember 2022. Perusahaan dinilai tidak bisa menutup selisih tanggungjawab dengan aset nan dimiliki.

Aset WanaArtha tak sampai Rp 100 miliar namun tanggungannya mencapai Rp 15,7 triliun. Terkait ini, apakah biaya pelanggan bisa kembali?

Tim Likuidasi WanaArtha Life, Harvardy M. Iqbal mengatakan, pihaknya tetap mengumpulkan informasi aset-aset WanaArtha Life. Timnya juga tetap menunggu Neraca Penutupan Otoritas Jasa Keuangan untuk dapat dilakukan audit.

"Saat ini Tim Likuidasi tetap mengumpulkan informasi aset-aset WanaArtha dan menunggu Neraca Penutupan dari OJK untuk dapat segera dilakukan audit. Kami dari tim likuidasi bakal bekerja maksimal, dan harapannya adalah tercapai pemberesan nan melangkah dengan baik dan semua pihak mendapatkan haknya seoptimal mungkin," katanya di Kantor Pusat WanaArtha Life, Jl. Mampang Prapatan, Tegal Parang, Jakarta Selatan Selasa (2/1/2023).

Ia juga bakal memverifikasi soal tanggungan WanaArtha nan mencapai Rp 15,7 triliun dengan support auditor independen.

"Terkait informasi tunggakan polis nan katanya mencapai Rp 15 triliun, sedangkan aset tidak sampai 100 miliar, itulah nan kami bakal verifikasi kebenarannya dalam proses likuidasi ini, juga dengan support dari auditor independen,"terangnya.

Adapun tim likuidasi ini telah disetujui OJK, merujuk kepada Surat Otoritas Jasa Keuangan Nomor: S-259/NB.23/2022 tanggal 13 Desember 2022 perihal Pengajuan Pembubaran dan Penunjukan Tim Likuidasi PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha. Harvardy menyebut pokoknya menyetujui Tim Likuidasi nan beranggotakan Harvardy Muhammad Iqbal dan Sherly Anita Metanfanuan.

Rencananya tim likuidasi mengadakan perkenalan dan sosialisasi proses likuidasi WanaArtha Life kepada majelis komisaris dan dewan perseroan. Harvardy menyebut perihal ini krusial dilaksanakan agar tim likuidasi dan Dewan Komisaris serta Direksi dapat saling membantu dalam proses likuidasi, sehingga Tim Likuidasi dapat bekerja dan menyelesaikan tugas dan kewenangan dengan baik.

Namun saat tim likuidasi mendatangi instansi WanaArtha Life, Harvardy ditolak masuk oleh petugas keamanan. Ia menyebut perihal ini bisa dianggap tindakan menghalang-halangi proses likuidasi.

"Yang pasti kehadiran kami adalah dalam rangka menjalankan kewenangan dan tugas tim likuidasi sesuai POJK 28 tahun 2015 untuk melakukan proses pemberesan alias likuidasi lantaran dicabutnya izin upaya PT WAL (WanaArtha Life) oleh OJK, tapi kehadiran kami justru ditolak dan dihalang-halangi oleh petugas keamanan gedung dengan argumen nan tidak jelas dan meminta arsip nan ada, tindakan ini dapat dianggap sebagai tindakan nan menghalang-halangi proses likuidasi," Kata Harvardy.

(ara/ara)

Selengkapnya
Sumber Berita Keuangan Update
Berita Keuangan Update
Atas