Tahun Sudah Baru, Rupiah Masih Saja Pakai Gaya Lama! | Drafmedia.com

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Pekerja pusat penukaran mata duit asing menghitung duit Dollar AS di gerai penukaran mata duit asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah menguat cukup tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan Senin (2/1/2023). Perdagangan tersebut merupakan nan perdana pada tahun baru, tetapi sayangnya rupiah tetap menggunakan style lama, berbalik melemah di penutupan.

Pergerakan seperti itu sering terjadi tahun lalu, menjadi indikasi kuatnya dolar AS. Maklum saja, bank sentralnya (The Fed) sangat garang meningkatkan suku kembang dan ada akibat resesi bumi 2023. Dalam kondisi tersebut, dolar AS nan menyandang status safe haven tentunya menjadi primadona.

Melansir informasi Refinitiv, rupiah membuka perdagangan Senin dengan melesat 0,55%, tetapi pada penutupan justru melemah tipis 0,03% ke Rp 15.570/US$.

Meski demikian, memasuki tahun baru langsung ada berita baik dari dalam negeri.

S&P Global kemarin melaporkan purchasing managers' index (PMI) manufaktur Indonesia naik menjadi 50,9 pada Desember 2022, naik dari bulan sebelumnya 50,3.

PMI menggunakan nomor 50 sebagai periode batas. Di bawahnya berfaedah kontraksi, di atasnya adalah ekspansi. Artinya, di penghujung 2022 sektor manufaktur Indonesia meningkatkan ekspansinya.

Laporan tersebut juga menunjukkan peningkatan demand membikin output produksi meningkat, begitu juga dengan kegiatan pembelian serta perekrutan tenaga kerja.

"PMI Desember menunjukkan peningkatan kondisi sektor manufaktur Indonesia pada akhir 2022. Laju ekspansi output dan penjualan nan lebih sigap berbareng dengan meredanya tekanan kenaikan nilai menjadi perkembangan nan bagus, meski kenaikan produksi dan demand tetap lemah," kata Jingyi Pan, Economics Associate Director at S&P Global Market Intelligence dalam rilisnya Senin pagi.

Jingyi juga memandang kenaikan nilai output turun ke level terendah sejak Mei 2021, menunjukkan tekanan nilai ke kosumen sudah melambat dan bakal mendukung kenaikan demand ke depannya.

Sektor manufaktur merupakan salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia berasas lapangan usaha. Kontribusinya terhadap prodik domestik bruto (PDB) lebih dari 17%, menjadi nan tertinggi disusul oleh pertambangan dan penggalian sekitar 13,5% pada kuartal III-2022.

Dengan PMI manufaktur nan mempercepat laju ekspansinya, tentunya menjadi berita bagus dan berkesempatan terus bersambung di tahun ini, mengingat ada Tahun Baru Imlek, dan China perlahan mulai melonggarkan lockdown.

Namun, ada nan sedikit mengganjal, ialah inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin melaporkan consumer price index (CPI) sepanjang 2022 sebesar 5,51% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Catatan tersebut lebih tinggi dari hasil polling CNBC Indonesia nan memperkirakan 5,39% (yoy). Selain itu, Inflasi tersebut mengalami kenaikan dari November nan tercatat 5,42%, tetapi dibandingkan September lampau sudah melandai dari nyaris 6%.

Inflasi inti tercatat menembus level 3,36%. Kenaikan inflasi inti ini nan cukup mengkhawatirkan, karena tetap menunjukkan tren kenaikan meski perlahan. Inflasi inti mencerminkan nilai peralatan nan tidak mudah berubah, artinya jika terus menanjak maka turunnya bakal lebih sulit.

Daya beli masyarakat bisa tertekan, dan tentunya berakibat ke pertumbuhan ekonomi.

Secara teknikal, rupiah tetap tertahan di atas Rp 15.450/US$, nan bakal menjadi kunci pergerakan.

Level tersebut merupakan Fibonacci Retracement 38,2%, nan ditarik dari titik terendah 24 Januari 2020 di Rp 13.565/US$ dan tertinggi 23 Maret 2020 di Rp 16.620/US$.

Namun, rupiah nan disimbolkan USD/IDR sukses kembali ke bawah rerata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA 50) nan tentunya memberikan kesempatan penguatan lebih lanjut.

Indikator Stochastic pada diagram harian mulai keluar dari daerah jenuh beli (overbought).

idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv 

Stochastic merupakan leading indicator, alias parameter nan mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai daerah overbought (di atas 80) alias oversold (di bawah 20), maka nilai suatu instrumen berkesempatan berbalik arah.

Support terdekat berada di kisaran Rp 15.550/US$ - Rp 15.530/US$. Jika ditembus, rupiah berkesempatan menguat menuju level kunci Rp 15.450/US$. Kemampuan menembus konsisten ke bawah level tersebut bakal membawa rupiah menguat lebih jauh di pekan ini.

Sementara selama tertahan di atas support, ada akibat rupiah melemah ke Rp 15.600/US$ hingga Rp 15.620/US$. Resisten selanjutnya berada di kisaran Rp 15.700/US$.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

'Gerbang Keterpurukan' Terbuka Lebar, Semoga Rupiah Kuat!


(pap/pap)

Selengkapnya
Sumber Lifestyle Update 2023
Lifestyle Update 2023
Atas