Ramalan Ekonomi IMF Bikin Ngeri, IHSG Masih Bisa ke 7.000? | Drafmedia.com

Ramalan Ekonomi IMF Bikin Ngeri, IHSG Masih Bisa ke 7.000? | Drafmedia.com

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Karyawan melintas di depam layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (5/7/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia  - Pasar finansial Indonesia bergerak condong negatif pada perdagangan awal tahun lantaran penanammodal cemas bakal ancaman resesi dunia.

Perdagangan perdana Senin (02/01/23) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik nyaris 0,4 poin saja alias 0,01% menjadi 6.850,98. 

Dilansir dari RTI Business, sebanyak 292 saham mengalami apresiasi, 244 saham terkoreksi, sementara 167 lainnya mendatar.

Volume perdagangan hari ini tercatat sebanyak 13,7 miliar dengan gelombang perpindahan tangan sebanyak 930 ribu kali.

Nilai perdagangan kali ini hanya mencapai 5,53 triliun rupiah, lebih rendah 43% dari perdagangan akhir tahun lampau (30/12/22) ialah 9,62 triliun rupiah.

Sementara itu mata duit Garuda, rupiah, kandas terapresiasi di perdagangan awal tahun. Melansir informasi Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di Rp 15.570/US$, melemah tipis 0,03% di pasar spot pada perdagangan kemarin.

Tekanan datang dari kekhawatiran para pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi dunia nan diproyeksi bakal tumbuh melambat hingga terjadi resesi. Bahkan pertumbuhan kegiatan manufaktur Indonesia tidak bisa menopang laju IHSG.

Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan isyarat bahwa tahun ini bakal menjadi tahun nan susah lantaran mesin utama pertumbuhan dunia - Amerika Serikat, Eropa, dan China semuanya mengalami kegiatan nan melemah.

Pelaku pasar juga berhati-hati setelah informasi menunjukkan kegiatan pabrik China menyusut paling banyak dalam nyaris 3 tahun pada bulan Desember, di tengah penyebaran sigap kasus Covid-19 di seluruh daratan.

S&P Global pagi ini melaporkan purchasing managers' index (PMI) manufaktur Indonesia naik menjadi 50,9 pada Desember 2022, naik dari bulan sebelumnya 50,3.

PMI menggunakan nomor 50 sebagai periode batas. Di bawahnya berfaedah kontraksi, di atasnya adalah ekspansi.

Artinya, di penghujung 2022 sektor manufaktur Indonesia meningkatkan ekspansinya.

S&P Global melaporkan, peningkatan demand membikin output produksi meningkat, begitu juga dengan kegiatan pembelian serta perekrutan tenaga kerja.

"PMI Desember menunjukkan peningkatan kondisi sektor manufaktur Indonesia pada akhir 2022. Laju ekspansi output dan penjualan nan lebih sigap berbareng dengan meredanya tekanan kenaikan nilai menjadi perkembangan nan bagus, meski kenaikan produksi dan demand tetap lemah," kata Jingyi Pan, Economics Associate Director at S&P Global Market Intelligence dalam rilis hari ini.

Jingyi juga memandang kenaikan nilai output turun ke level terendah sejak Mei 2021, menunjukkan tekanan nilai ke konsumen sudah melambat dan bakal mendukung kenaikan demand ke depannya.

Wall Sreet Terburuk Sejak 2008

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

Selengkapnya
Sumber Lifestyle Update 2023
Lifestyle Update 2023
Atas