Ramai-ramai Warga China Mau Kabur, Kenapa Nih Xi Jinping?

Ramai-ramai Warga China Mau Kabur, Kenapa Nih Xi Jinping?

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Pelancong nan masuk menunggu berjam-jam untuk naik bus untuk berangkat ke hotel dan akomodasi karantina dari Bandara Guangzhou Baiyun di provinsi Guangdong, China selatan pada 25 Desember 2022. China bakal mencabut persyaratan karantina COVID-19 untuk penumpang nan datang dari luar negeri mulai 8 Januari 2020. Komisi Kesehatan Nasional mengumumkan pada Senin, 26 Desember 2022 dalam pelonggaran terbaru dari langkah-langkah pengendalian virus nan dulu ketat di negara itu. (AP Photo/Emily Wang Fujiyama) Foto: Pelancong nan masuk menunggu berjam-jam untuk naik bus untuk berangkat ke hotel dan akomodasi karantina dari Bandara Guangzhou Baiyun di provinsi Guangdong, China selatan pada 25 Desember 2022. (AP/Emily Wang Fujiyama)

Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat Negara China tiba-tiba menyerbu tiket pesawat untuk 'minggat' ke luar negeri. Hal ini terjadi menyusul pelonggaran protokol Covid-19 nan saat ini diberlakukan oleh Pemerintah Presiden Xi Jinping.

Dilansir dari The Guardian Jumat (30/12/2022), terdapat lonjakan nan signifikan terhadap pembelian tiket pesawat ke luar Negeri Tirai Bambu tersebut. Hal tersebut terbukti dari situs pemesanan tiket pesawat online nan mengalami lonjakan pengunjung nan besar.

Menurut informasi dari platform perjalanan Cina Ctrip, pencarian untuk tujuan lintas pemisah terkenal telah meningkat 10 kali lipat dalam waktu separuh jam setelah buletin karantina dilonggarkan Senin. Makau, Hong Kong, Jepang, Thailand, dan Korea Selatan (Korsel) adalah tujuan nan paling dicari.

Tak hanya dari China Trip, laporan dari Trip.com juga menunjukkan pemesanan penerbangan keluar negeri naik 254% pada Selasa pagi, jika dibandingkan dengan hari sebelumnya.

Namun demikian, sejumlah negara memperketat pintu masuknya bagi penduduk nan datang dari China. Hal ini dilakukan sebagai respons dari pelonggaran Covid-19 dan melonjaknya kasus di China.

Seperti nan dilakukan oleh pemerintah Jepang mulai Jumat (30/12/2022) kemarin, telah mewajibkan seluruh pelancong dari China untuk menjalani tes Covid-19 saat tiba di negara itu. Mereka nan dites positif kudu dikarantina hingga tujuh hari.

Perdana Menteri (PM) Jepang, Fumio Kishida, mengatakan bahwa negaranya bakal mewajibkan tes Covid untuk semua pengunjung dari China sebagai tindakan darurat sementara mulai hari Jumat. Ia juga berencana membatasi maskapai nan meningkatkan penerbangan ke China.

"Ada kekhawatiran nan berkembang di Jepang. Kami telah memutuskan untuk mengambil tindakan unik sementara untuk menanggapi situasi tersebut," kata Kishida dalam konvensi persnya, melansir Guardians, dikutip Sabtu (31/12/2022).

Tak hanya Jepang, Amerika Serikat (AS) beserta Taiwan, India, dan Italia juga memberlakukan perihal serupa. Khusus AS, Washington merasa bahwa Beijing tidak cukup transparan dalam merilis informasi terkait perkembangan kasus Covid-19 di wilayahnya.

Adapun, Taiwan juga mengatakan orang-orang nan tiba dari China kudu menjalani tes Covid pada saat kehadiran dari 1 Januari hingga 31 Januari. Mereka nan dinyatakan positif bakal dapat mengisolasi diri di rumah

India pun menerapkan tanggungjawab sama, di mana penumpang asal China kudu menunjukkan tes Covid negatif sebelum tiba. Malaysia juga telah menerapkan langkah-langkah pencarian dan pengawasan tambahan bagi penumpang asal Negeri Xi Jinping.

Tak hanya di Asia, Amerika Serikat (AS) juga mengambil langkah serupa mulai 5 Januari mendatang untuk pelancong dari China, Hong Kong, dan Macau. Washington juga menyebut bahwa Beijing tidak cukup transparan dalam merilis informasi terkait perkembangan kasus Covid-19 di wilayahnya.

"Ini diperlukan untuk membantu memperlambat penyebaran virus saat kami berupaya mengidentifikasi potensi jenis baru nan mungkin muncul," tulis keterangan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS nan diberitakan BBC News.

Namun dalam merespons langkah preventif beberapa negara tersebut, Kementerian Luar Negeri China mengatakan pada hari Rabu bahwa saat ini perkembangan situasi epidemi di negara itu secara keseluruhan dapat diprediksi dan terkendali.

Lembaga diplomat resmi itu juga menyatakan patokan terkait virus corona hanya boleh diberlakukan atas dasar ilmiah. "Media dan negara-negara Barat membesar-besarkan situasi tersebut (Covid China)," ujar kementerian itu.

Dari masyarakat, beberapa penduduk bereaksi dengan marah di media sosial China. Ada nan menyatakan bahwa ini merupakan corak diskriminasi dan rasisme. "Saya pikir semua negara asing telah terbuka. Bukankah ini rasisme?," tulis satu komentar nan disukai 3.000 kali di akun media sosial China, Weibo.

Sebelumnya, Beijing mengumumkan mengakhiri karantina untuk kehadiran per 8 Januari mendatang. Ini secara efektif membuka kembali perjalanan masuk dan keluar negara untuk pertama kalinya sejak Maret 2020.

Saat ini, China melaporkan sekitar 5.000 kasus per hari. Walau begitu, analis mengatakan jumlah tersebut sangat kurang dihitung dan beban kasus harian mungkin mendekati satu juta.


[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Waduh, Kasus Kematian Covid-19 di China Meningkat


(pgr/pgr)

Selengkapnya
Sumber Lifestyle Update 2023
Lifestyle Update 2023
Atas