PLN Sabet Penghargaan Green Leadership di Ajang PROPER 2022

PLN Sabet Penghargaan Green Leadership di Ajang PROPER 2022

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

PT PLN (Persero) meraih penghargaan Green Leadership Utama 2022 dari Pemerintah Republik Indonesia. Penghargaan tertinggi di bagian lingkungan ini diserahkan langsung oleh Wakil Presiden K.H. Ma'ruf Amin dan disaksikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, Kamis (29/12).

Anugerah Green Leadership Utama diberikan kepada ketua tertinggi perusahaan nan perusahaannya berperan-serta aktif dalam menjaga lingkungan dan memperoleh PROPER Emas. Adapun kategori ini merupakan variabel penilaian baru dalam Anugerah PROPER tahun 2022.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyampaikan memimpin perusahaan daya di tengah tantangan perubahan suasana bukanlah perihal mudah. Namun, PLN bisa beralih bentuk menjadi perusahaan nan hijau dan adaptif dalam menjawab tantangan perubahan zaman.

"PLN sudah merombak tata kelola kelistrikan dengan digitalisasi end to end. Dari pasokan energi, pembangkitan, transmisi, pengedaran sampai ke rumah-rumah pelanggan sudah dikelola secara terintegrasi," papar Darmawan dalam keterangan tertulis, Sabtu (31/12/2022).

Sederet Upaya PLN Dorong Transisi Energi

Dalam penghargaan Green Leadership, terdapat tujuh kriteria penilaian nan mencakup penggunaan daya terbarukan, pengelolaan sumber daya air nan berkelanjutan, pengelolaan sumber daya alam nan ramah, dan penghilangan limbah industri. Selain itu, lingkungan bebas dari pencemaran, memenuhi kebutuhan kehidupan, serta prasarana bentuk menjaga ekosistem dan komunitas.

Dari penilaian tersebut, PLN dinilai bisa beralih bentuk dalam menghadapi transisi energi. Darmawan pun dinilai bisa mengubah langkah pandang proses upaya dari tetap dan backward looking menjadi bergerak dan forward looking.

Proses upaya nan dulunya manual, sekarang menerapkan digitalisasi secara end to end. PLN melakukan digitalisasi dari pembangkitan, transmisi, dan pengedaran sebagai bagian dalam mendukung transisi energi.

Sementara dari sisi energi, dengan kepemimpinan dan navigasi nan kokoh, PLN menerapkan beragam program untuk mengimplementasikan peta jalan NZE 2060. Upaya Deklarasi NZE 2060 apalagi telah dibawa PLN dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP) 26 pada 2021 di Glasgow, Skotlandia dan COP27 di Sharm el-Sheikh, Mesir.

"PLN mempunyai program-program inisiatif transisi daya nan mengkonsolidasi support beragam pihak. Baik entitas bisnis, lembaga pendanaan, nan didukung pemerintah untuk mencapai NZE 2060," ungkap Darmawan.

Dalam mencapai transisi energi, PLN telah menandatangani 45 memorandum of understanding (MOU) dan letter of intent (LOI).

PLN juga turut mendorong upaya penurunan dengan ikut mengawal penyusunan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) sampai dengan tahun 2030 nan menjadi RUPTL paling hijau sepanjang sejarah Indonesia. Dalam RUPTL tersebut, terdapat 50,6 persen pembangunan pembangkit berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT). Sesuai RUPTL ini, PLN juga menginisiasi penghapusan 13 GW PLTU dari perencanaan dan menambah kapabilitas EBT hingga 20,9 GW tanpa menambah PLTU baru.

Di samping itu, PLN telah memetakan dan melakukan beragam upaya guna mereduksi emisi sebesar 98 juta ton CO2 di tahun 2030. Selain menjadikan transisi daya sebagai tantangan, PLN juga menjadikannya kesempatan untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat, salah satunya melalui co-firing.

Sejak 2021, PLN sudah mulai mengimplementasikan program co-firing di puluhan pembangkit. Melalui co-firing, PLN menggantikan konsumsi batubara dalam jumlah signifikan dengan bahan baku biomassa, hidrogen dan amonia. Selain pengurangan emisi, penerapan co-firing pun bisa menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat dalam penyediaan bahan bakunya.

"Program co-firing ini sudah sukses mengurangi emisi lebih dari 800 ribu ton CO2. Dalam prosesnya PLN memberdayakan masyarakat seperti BUMDes, Kelompok Tani, dan beragam UMKM. Ini adalah komitmen PLN bertransisi daya sekaligus membangun ekosistem daya berbasis ekonomi kerakyatan," ucapnya.

Selain itu, PLN memulai tata kelola baru limbah pembangkit dengan pemanfaatan Fly Ash and Bottom Ash (FABA) dari PLTU. Hal ini mengingat potensi FABA dari seluruh PLTU PLN di Indonesia besar. Selain dapat mengurangi emisi, pemanfaatan FABA bakal memunculkan beragam upaya baru dan penyerapan tenaga kerja di masyarakat.

Baca Selanjutnya >>>

Selengkapnya
Sumber Berita Keuangan Update
Berita Keuangan Update
Atas