Peringatan Baru IMF untuk 2023, 3 'Raksasa' Jadi Perhatian | Drafmedia.com

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

IMF Managing Director Kristalina Georgieva speaks during a press conference after a meeting of the heads of international financial and economic organisations in Berlin, on November 29, 2022. (Photo by Tobias SCHWARZ / AFP) Foto: Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva. (AFP/TOBIAS SCHWARZ)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan peringatan baru terkait ekonomi dunia pada 2023. Kondisinya diperkirakan lebih susah dibandingkan dengan 2022.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan untuk sebagian besar ekonomi global, 2023 bakal menjadi tahun nan susah lantaran mesin utama pertumbuhan dunia - Amerika Serikat, Eropa, dan China - semuanya mengalami kegiatan nan melemah.

"Tahun baru bakal menjadi lebih susah daripada tahun nan kita tinggalkan. Mengapa? Karena tiga ekonomi besar - AS, UE, dan China - semuanya melambat secara bersamaan," tuturnya kepada CBS, dikutip Reuters, Senin (2/1/2023).

Adapun pada Oktober, IMF memangkas prospeknya untuk pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2023, nan mencerminkan halangan nan terus bersambung dari perang di Ukraina serta tekanan inflasi dan suku kembang tinggi.

"Untuk pertama kalinya dalam 40 tahun, pertumbuhan China pada 2022 kemungkinan berada di bawah alias di bawah pertumbuhan global," kata Georgieva.

Selain itu, lonjakan baru kasus Covid nan diperkirakan terjadi di Negeri Tirai Bambu dalam beberapa bulan ke depan kemungkinan bakal makin memukul ekonominya tahun ini dan menyeret pertumbuhan regional dan global.

"Untuk beberapa bulan ke depan, bakal susah bagi China, dan dampaknya terhadap pertumbuhan China bakal negatif, dampaknya terhadap area bakal negatif, akibat terhadap pertumbuhan dunia bakal negatif," katanya.

Dalam perkiraan bulan Oktober, IMF mematok pertumbuhan PDB China tahun lampau sebesar 3,2% alias setara dengan prospek dunia IMF untuk 2022.

Sementara itu, kata Georgieva, ekonomi AS berdiri terpisah dan dapat menghindari kontraksi langsung nan kemungkinan bakal menimpa sepertiga dari ekonomi dunia.

"AS paling tangguh, dapat menghindari resesi. Kami memandang pasar tenaga kerja tetap cukup kuat," katanya.

Namun, kebenaran itu sendiri menghadirkan akibat lantaran dapat menghalang kemajuan nan perlu dibuat Fed dalam membawa inflasi AS kembali ke level nan ditargetkan sebesar 2%.

"Ini adalah ... berkah campuran lantaran jika pasar tenaga kerja sangat kuat, Fed mungkin kudu mempertahankan suku kembang lebih lama untuk menurunkan inflasi," kata Georgieva.

Tahun lalu, dalam pengetatan kebijakan nan paling garang sejak awal 1980-an, Fed meningkatkan suku kembang acuannya dari mendekati nol pada Maret ke kisaran saat ini 4,25% hingga 4,50%, dan pejabat Fed bulan lampau memproyeksikan bakal menembus pemisah 5% pada 2023, level nan tidak terlihat sejak 2007.

Adapun, pasar kerja AS bakal menjadi konsentrasi utama bagi pejabat Fed nan mau memandang permintaan tenaga kerja berkurang untuk membantu mengurangi tekanan harga.


[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Jokowi Siapkan Jurus Jitu Agar RI Tak Jadi Pasien IMF


(luc/luc)

Selengkapnya
Sumber Lifestyle Update 2023
Lifestyle Update 2023
Atas