Perdagangan Pertama 2023, Rupiah 'PHP' dan Mengecewakan! | Drafmedia.com

Perdagangan Pertama 2023, Rupiah 'PHP' dan Mengecewakan! | Drafmedia.com

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Pekerja pusat penukaran mata duit asing menghitung duit Dollar AS di gerai penukaran mata duit asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah batal menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (2/1/2022), padahal di awal sesi menguat cukup tajam hingga ke bawah Rp 15.500/US$.

Melansir informasi Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di Rp 15.570/US$, melemah tipis 0,03% di pasar spot.

Kabar baik datang dari dalam negeri. S&P Global pagi ini melaporkan purchasing managers' index (PMI) manufaktur Indonesia naik menjadi 50,9 pada Desember 2022, naik dari bulan sebelumnya 50,3.

PMI menggunakan nomor 50 sebagai periode batas. Di bawahnya berfaedah kontraksi, di atasnya adalah ekspansi.

Artinya, di penghujung 2022 sektor manufaktur Indonesia meningkatkan ekspansinya.

S&P Global melaporkan, peningkatan demand membikin output produksi meningkat, begitu juga dengan kegiatan pembelian serta perekrutan tenaga kerja.

"PMI Desember menunjukkan peningkatan kondisi sektor manufaktur Indonesia pada akhir 2022. Laju ekspansi output dan penjualan nan lebih sigap berbareng dengan meredanya tekanan kenaikan nilai menjadi perkembangan nan bagus, meski kenaikan produksi dan demand tetap lemah," kata Jingyi Pan, Economics Associate Director at S&P Global Market Intelligence dalam rilisnya hari ini.

Jingyi juga memandang kenaikan nilai output turun ke level terendah sejak Mei 2021, menunjukkan tekanan nilai ke konsumen sudah melambat dan bakal mendukung kenaikan demand ke depannya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi sepanjang 2022 sebesar 5,51% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Catatan tersebut lebih tinggi dari hasil polling CNBC Indonesia nan memperkirakan 5,39% (yoy).

Selain itu, Inflasi tersebut mengalami kenaikan dari November nan tercatat 5,42%.Secara tahunan, inflasi bakal melandai seiring dengan memudarnya akibat kenaikan nilai BBM subsidi.

"Terjadi inflasi sebesar 5,51%. Inflasi tahun ke tahun ini merupakan inflasi tahun almanak 2022," papar Kepala BPS Margo Yuwono, Senin (2/1/2023).

Inflasi tahunan ini, kata Margo, dipicu oleh tarif transportasi 15,26% dengan andil 1,84%. Kedua, inflasi terjadi pada makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,83% dan andilnya 1,51%.

Inflasi inti tercatat menembus level 3,36%.

"Peningkatan inflasi komponen inti mendorong inflasi tahunan Desember 2022 lebih tinggi dari sebelumnya," ungkap Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono dalam konvensi pers, Senin (2/1/22023)

Inflasi inti tersebut lebih rendah daripada hasil polling sebesar 3,39%.

Secara keseluruhan inflasi di dalam negeri terbilang terkendali, mengingat pemerintah sebelumnya meningkatkan bahan bakar minyak (BBM) Pertalite nan dikhawatirkan bakal memicu inflasi tinggi.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Terkapar Lawan Dolar AS, Rupiah Dekati Level Rp 15.600/USD


(pap/pap)

Selengkapnya
Sumber Lifestyle Update 2023
Lifestyle Update 2023
Atas