Nikmat Raja Tambang RI: Royalti 0%, Dolar Parkir di LN | Drafmedia.com

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). Pemerintah memutuskan untuk menyetop ekspor batu bara pada 1–31 Januari 2022 guna menjamin terpenuhinya pasokan komoditas tersebut untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PLN dan independent power producer (IPP) dalam negeri. Kurangnya pasokan batubara dalam negeri ini bakal berakibat kepada lebih dari 10 juta pelanggan PLN, mulai dari masyarakat umum hingga industri, di daerah Jawa, Madura, Bali (Jamali) dan non-Jamali. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Pekerja melakukan bongkar muat batubara di Terminal Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (6/1/2022). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan batu bara di Tanah Air mendapatkan angin segar. Pasalnya, pemerintah resmi membebaskan iuran produksi alias royalti batu bara hingga 0%.

Aturan ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Cipta Kerja nan diteken Presiden Joko Widodo alias Jokowi pada 30 Desember 2022.

Aturan soal royalti tersebut dituangkan dalam Perppu nan memuat sisipan satu pasal untuk UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Minerba, ialah Pasal 128 A ayat 2.

"Pemberian perlakuan tertentu terhadap tanggungjawab penerimaan negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kegiatan Pengembangan dan/ alias Pemanfaatan Batubara dapat berupa pengenaan iuran produksi/royalti sebesar 0% (nol persen)," bunyi pasal tersebut nan tercantum dalam Perppu Cipta Kerja tersebut.

Ketentuan ini nantinya bakal diatur lebih detil dalam peraturan pemerintah (PP). Dengan royalti 0%, pengusaha tambang, terutama batu bara bakal semakin cuan. Terlebih lagi, ketika nilai batu bara naik tinggi.

Seperti tahun lalu, nilai batu bara sempat mencapai US$ 400 per ton. Batu bara dua kali memecahkan rekor ialah pada 2 Maret 2022 d nilai US$ 446 per ton dan pada 5 September 2022 di nilai US$ 463,75 ton.

Sekalipun dengan adanya pelemahan dunia akibat kelesuan ekonomi China, Analis Industri Bank Mandiri Ahmad Zuhdi memperkirakan nilai batu bara bakal berada di kisaran US$ 360-380 per ton pada pekan pertama Januari 2023.

Perang Rusia-Ukraina, persoalan gas Eropa, kekeringan dan gelombang panas di China dan India, banjir di Australia, hingga larangan ekspor Indonesia membikin batu bara terbang pada tahun lalu.

Namun, eksportir batu bara dan sumber daya mineral lainnya nan diuntungkan dengan kenaikan nilai ini diduga tidak menyimpan dolar hasil ekspornya di dalam negeri.

Hal ini membikin risau pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Pasalnya, kenaikan nilai komoditas menopang neraca perdagangan Indonesia mencetak surplus beruntun selama 31 bulan.

Sayangnya, surplus tersebut tidak tercermin dalam persediaan devisa nan justru mengalami penurunan.

Per November 2022, persediaan devisa nan dicatat Bank Indonesia (BI) hanya mencapai US$ 134 miliar, naik tipis dari US$ 132 miliar pada bulan Oktober 2022. Cadangan devisa Indonesia sebenarnya sempat mencapai US$ 144,8 miliar pada Agustus 2021. Ini adalah rekor sejarah.

Alih-alih menyimpan dan menukarkan dolar di dalam negeri, eksportir lebih memilih menyimpan dolarnya nan semestinya terhitung sebagai devisa hasil ekspor (DHE) di luar negeri, salah satunya di Negeri Jiran, Singapura.

Pemerintah dan BI pun menerapkan kembali hukuman dan denda terhadap eksportir sumber daya alam (SDA) nan kandas melaporkan dan menyimpan dolar hasil ekspornya di bank dalam negeri.

BI apalagi berupaya membujuk para eksportir untuk menempatkan Devisa Hasil Ekspor (DHE) mereka di dalam negeri.

Upaya tersebut dilakukan BI dengan menerbitkan instrumen operasi moneter (OM) valas nan diharapkan bisa menggaet minat eksportir lantaran dapat memberikan imbal hasil simpanan valas nan kompetitif berasas sistem pasar nan transparan disertai dengan pemberian insentif kepada bank.

Dalam OM tersebut, bank nantinya bisa memberikan suku kembang simpanan nan lebih tinggi dan membebankan gap alias spread-nya kepada BI.

Eksportir memang banyak menyimpan dolar hasil ekspornya di Singapura, mengingat suku kembang simpanannya lebih tinggi dibandingkan di dalam negeri.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno menuturkan bahwa imbal hasil bukan satu-satunya pertimbangan pengusaha untuk menempatkan DHE nya di dalam negeri.

"Itu kelak bisa kita pertimbangkan, mungkin dari sisi imbal hasilnya sudah lumayan tapi dari sisi lain pasti kita bakal pertimbangkan kemudahan apa lagi nan bisa menyamakan kemudahan jika ditaruh di luar," terangnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (26/12/2022).

Selain imbal hasil, dia menegaskan eksportir juga mempertimbangkan kemudahan manajemen nan lebih menjanjikan di luar negeri.

Oleh lantaran itu, selain instrumen moneter, agunan kemudahan manajemen juga kudu dilakukan guna menarik minat para pengusaha untuk memarkirkan DHE nya di dalam negeri.

"Kan tidak hanya sekedar imbal hasilnya, artinya ada beberapa manajemen nan mungkin jika di sini lebih sulit, lebih baik (yang) lebih mudah di sana," ujarnya.

Melihat kondisi ini, miris jika perusahaan batu bara mendapatkan kemudahan pungutan royalti nol persen, tetapi memarkirkan keuntungannya di luar negeri.


[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Soal DHE, Eksportir: Kami Pejuang Devisa Tapi Kok Dipersulit


(haa/haa)

Selengkapnya
Sumber Lifestyle Update 2023
Lifestyle Update 2023
Atas