Jreng! Eropa Akan 'Singkirkan' Gas dan Batubara, RI Terimbas? | Drafmedia.com

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pejabat di Brussels berencana merombak pasar listrik Uni Eropa untuk memprioritaskan daya terbarukan nan lebih murah, meskipun ada peringatan dari pelaku industri bahwa reformasi tersebut dapat menghalang investasi di pembangkit listrik tenaga angin dan matahari.

Proposal tersebut datang setelah tekanan berbulan-bulan dari sejumlah negara anggota, terutama Perancis dan Spanyol, nan mendesak komisi daya UE untuk mengakhiri sistem di mana bahan bakar nan paling mahal di blok - saat ini gas, diikuti oleh batu bara - menjadi referensi untuk menetapkan nilai untuk semua listrik nan dihasilkan.

Harga listrik nan melonjak di Eropa nyaris setahun terakhir terjadi lantaran sistem pasar dan perdagangan tenaga listrik nan relatif berbeda dengan area bumi lain.Pasar listrik Eropa menggunakan skema marginal pricing atau nan lebih dikenal dengan "merit order" nan memprioritaskan daya nan lebih murah untuk memenuhi kebutuhan listrik, namun nilai dipatok oleh produsen dengan biaya paling tinggi.

Secara sederhana UE bakal melelang pasokan listrik kepada sejumlah produsen, dengan nilai nan murah diutamakan lampau dilanjutkan dengan tertinggi nan masuk dalam penawaran untuk memenuhi pasokan daya bakal dijadikan patokan. UE kemudian membeli dengan nilai patokan tertinggi tersebut, tanpa memandang dari mana sumber listrik dihasilkan.

Artinya perusahaan produsen listrik daya terbarukan dengan biaya produksi lebih murah bakal memperoleh untung lebih besar dan pada akhirnya ini menjadi insentif bagi pengusaha untuk mengembangkan ladang angin dan panel surya.

Selama ini patokan tersebut tidak mengalami hambatan signifikan, lantaran gas semula dapat diandalkan. Akan tetapi lantaran krisis baru-baru ini nilai patokan tersebut naik signifikan. Sebagai gambaran, untuk memenuhi seluruh daya Eropa bakal dibutuhkan gas sebagai sumber daya nan paling mahal. Pada Agustus 2020 nilai pasar listrik Eropa sekitar 50 euro per MWh sedangkan pada Agustus 2022 lampau melonjak di atas 300 euro per MWh.

Aturan ini menguras kantong masyarakat Eropa, khususnya nan memperoleh listrik dari sumber terbarukan nan lebih murah, namun tetap kudu membayar pada nilai nan sama seolah-olah mereka memperoleh listrik dari gas.

Sebaliknya pembangkit listrik dari sumber terbarukan menjadi pihak nan paling diuntungkan, lantaran UE membeli di nilai nan sama dengan listrik dari gas, padahal biaya produksinya rendah sekali.

Perusahaan listrik dari daya terbarukan nan cuan besar telah dikenakan windfall tax nan hasilnya diteruskan ke konsumen dan direncanakan bakal diperpanjang hingga akhir tahun 2023.

Energi terbarukan menyumbang sekitar dua per lima produksi listrik Eropa pada tahun 2020, dengan 36% berasal dari bahan bakar fosil dan 25% dari nuklir, menurut informasi Komisi Eropa.

Bauran tersebut secara tidak langsung menjadikan nilai daya terbarukan sering kali dipatok menggunakan nilai bahan bakar fosil. Hal ini nan sejatinya mau diubah.

Financial Times menyebut komisi daya EU menyarankan untuk membikin daya terbarukan lebih mencerminkan "biaya produksi sebenarnya", mengingat begitu prasarana dibangun, sumber daya untuk ladang angin alias panel surya pada dasarnya dapat dikatakan gratis.

Artinya skema marginal pricing berencana untuk dihapuskan.

Prancis, penghasil tenaga nuklir terbesar di UE, dan Spanyol nan menghasilkan nyaris separuh listrik dari daya terbarukan, telah menjadi pendukung paling vokal untuk pemisahan gas dan nilai daya terbarukan. Hal ini wajar, lantaran meski kedua negara tersebut memproduksi listrik dengan nilai murah, penduduknya tetap kudu membayar di nilai nan mahal.

Meski demikian sejumlah pelaku industri ikut marah dan mengatakan proposal Brussels bakal merusak perjanjian jangka panjang seperti perjanjian pembelian listrik (PPA). Ini didasarkan pada nilai rata-rata selama masa perjanjian dan memastikan developer menerima return investasi mereka.

Jika patokan baru disahkan, perihal ini bakal menjadi realitas pelik bagi pengusaha PLTU batu bara dan gas. PPA sendiri bisa berbobot ratusan juta euro lantaran dan memperkuat 10 alias 15 tahun. Artinya jika esensial pasar tiba-tiba berubah, investasi nan telah ditanam berpotensi ikut melayang.

Aturan tersebut juga berpotensi bakal berpengaruh pada nilai referensi gas dan batu bara global.

Parlemen Uni Eropa mengatakan bakal meluncurkan konsultasi tentang kemungkinan reformasi, dan menerbitkan proposal komplit pada akhir Maret.

Uni Eropa meminta negara-negara personil untuk memotong konsumsi gas sekitar 15% dan telah menyetujui windfall tax sementara juga diberlakukan kepada perusahaan minyak dan gas.

UE sebelumnya juga telah menentukan pemisah atas nilai grosir daya dari gas untuk meringankan beban masyarakat. Harga tersebut ditetapkan di 180 euro/MWh, untuk mencegahnya potensi kenaikan kembali ke rekor tertinggi Agustus sebesar 340 euro/MWh dan telah ditandatangani oleh para menteri pada bulan Desember.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Kiamat Gas di Eropa Makin Dekat, Harga Batu Bara Kian Panas


(fsd)

Selengkapnya
Sumber Lifestyle Update 2023
Lifestyle Update 2023
Atas