Jadi Emiten Bimbel Pertama di BEI, Begini Rencana Setelah IPO | Drafmedia.com

Jadi Emiten Bimbel Pertama di BEI, Begini Rencana Setelah IPO | Drafmedia.com

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Karyawan melintas di samping layar elektronik nan menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/10/2022). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Karyawan melintas di samping layar elektronik nan menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/10/2022). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Etek Indonesia (BEI) bakal kembali kehadiran emiten baru. Perusahaan pengarahan belajar berjulukan PT Lavender Bina Cendikia Tbk itu bakal melakukan penawaran umum pada 2 Januari sampai 4 Januari 2023.

Direktur Utama emiten berkode saham BMBL ini, Galih Pandekar mengungkapkan, Lavender bakal menjadi perusahaan pengarahan belajar pertama nan melantai di bursa. Perusahaan melepas sebanyak 280.000.000 saham baru pada 2-4 Januari 2023 di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dana nan dihasilkan dari IPO bakal digunakan sekitar 25% untuk modal kerja berupa biaya pemasaran, biaya training dan biaya konsultan pengembangan (untuk SDM dan Keuangan).

Kemudian 75% bakal digunakan untuk Capital Expenditure (capex) berupa pelunasan pembelian apartemen dan bangunan, pembelian ruang kantor, penambahan ruang kelas, pembaharuan instansi dan ruang kelas, pembaharuan gedung dan apartemen, pengembangan kanal pembelajaran digital, pengembangan konten untuk pembelajaran digital dan program Virtual Reality.

Saham perusahaan bakal dicatatkan di papan percepatan dengan kode saham BMBL.

"Pergerakan saham di papan percepatan ini begitu volatile dengan rentang nan lebar. Sehingga, banyak kemungkinan dan opportunity nan bisa terjadi," ujar Galih dalam keterangan tertulis, Senin (2/1/2023).

Galih meyakini prospek pasar di bumi pendidikan tetap terbuka sangat lebar. Terlebih, sektor ini juga mendapatkan perhatian unik dari pemerintah. Terbukti dari alokasi anggaran pendidikan pada APBN 2023 nan mencapai Rp 608 triliun.

"Dengan biaya sebesar ini tentu prospek nan potensial nan dimiliki lavender. Begitu pula dengan bumi pengarahan belajar dan konseling saat ini sedang booming didasari oleh kesadaran bakal pentingnya pendidikan dan kuliah di kampus ternama. Persaingan nan ketat untuk masuk ke perguruan tinggi memberikan opportunity buat lembaga pengarahan belajar dan konseling dalam mendapatkan clien, tentu dengan bukti keberhasilan nan dimiliki oleh Lavender nan mencapai kesuksesan hingga 90% di tahun 2022 ini," ujarnya.

Galih menjelaskan, perihal lain nan menunjukkan potensi besar di sektor ini adalah pangsa pasarnya tetap terbuka lebar. Menurutnya, belum banyak perusahaan nan bergerak di sektor pendidikan khususnya pengarahan belajar, apalagi sampai melantai di bursa.

"Sehingga persaingan tidak terlalu ketat. Lavender termasuk perusahaan nan sehat dari segi finansial dan pendanaan. Dengan melakukan IPO, cash flow Lavender menjadi lancar, rasio hutang juga menjadi rendah dibawah 5%. Saat ini perusahaan tetap belum ada pinjaman jangka panjang sehingga jika kelak perusahaan berencana melakukan ekspansi, maka banyak pilihan pendanaan nan bisa perusahaan lakukan," tuturnya.


[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

23 Calon Emiten Antre IPO di BEI, Siap Cari Modal Rp 9,5 T


(RCI/dhf)

Selengkapnya
Sumber Lifestyle Update 2023
Lifestyle Update 2023
Atas