Inflasi dan Suku Bunga Mencekik, Awas Keuanganmu Sekarat! | Drafmedia.com

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Jika 2022 dinilai sebagai tahun nan cukup menantang bagi kita semua, maka para pengamat pun menyebut 2023 sebagai tahun nan juga sangat menantang.

Di 2022, kita menyaksikan Perang Rusia - Ukraina nan berakibat inflasi serta perubahan kebijakan moneter nan menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi di sebuah negara.

Tim Riset CNBC Indonesia cukup percaya bahwa terjadi perubahan dari esensial perekonomian dunia akibat Covid-19 dan isu-su geopolitik. Inflasi tentunya bakal menjadi pokok perhatian utama di 2023 meski kami juga berambisi bakal ada penurunan secara perlahan.

Peristiwa-peristiwa nan berkarakter makro tersebut secara tidak langsung bakal memunculkan implikasi tersendiri bagi kesehatan finansial pribadi kita semua.

Dan kami pun berambisi Anda semua bisa mendapat pencerahan seputar manajemen finansial pribadi lewat Financial Planning Outlook 2023 ini.

Inflasi

Pemicu inflasi di 2022 tidak lain adalah lantaran masalah geopolitik global. Pecahnya perang Rusia dan Ukraina, ketegangan Rusia dengan negara-negara Eropa serta kebijakan Zero Covid Case di China semakin memperburuk supply chain dunia nan berujung ke melonjaknya inflasi di beragam negara.

Inflasi diartikan sebagai kenaikan nilai peralatan dan jasa secara umum dan menyeluruh.

Seperti diketahui, tingkat inflasi di Indonesia di sepanjang tahun 2022 adalah 5,51% YoY. Laju inflasi ini menjadi nan tertinggi sejak 2014 lalu. Sekedar informasi, di tahun 2014, laju inflasi di RI mencapai 8,36% YoY.

Kenaikan BBM tampaknya menjadi aspek utama dari inflasi, lantaran dari situlah berasal kenaikan tarif logistik, pikulan umum, hingga harga-harga lainnya. Adapun perihal nan menjadi aspek utama kenaikan nilai BBM adalah adanya kenaikan nilai minyak bumi nan menyebabkan biaya operasional Pertamina nan merupakan pengimpor minyak membengkak.

Lantas apa kabarnya di 2023?

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan tingkat inflasi dunia ada pada 6,5% namalain turun dari 8,8% pada 2022. Sektor daya dan bahan baku juga dinilai tetap bakal tetap mahal.

Wakil Presiden Ma'ruf Amin sempat menyampaikan bahwa dirinya cukup percaya inflasi di 2023 bakal turun jadi 3% YoY. Adapun langkah nan diambil pemerintah nantinya adalah menjaga level konsumsi domestik dan daya beli masyarakat, hilirisasi dan pemberdayaan UMKM, pengembangan ekonomi digital, serta ekonomi hijau.

Meski demikian, Bank Dunia sempat memperkirakan tingkat inflasi di Indonesia berada di level 4,4% YoY, lantaran kondisi finansial tetap ketat, nilai komoditas nan melambat tapi tetap tinggi dari historinya. Bank Dunia menyebut, inflasi di RI baru bakal terkendali di 3,7 pada 2024 dan 2025.

Apa nan kudu diwaspadai?

Besar alias kecil, inflasi bakal tetap ada dan perihal itu bakal menjadi kebenaran bahwa nilai peralatan dan jasa pasti bakal naik di masa depan.

Meski Pemerintah juga sudah mengumumkan adanya kenaikan bayaran minimum regional (UMP), belum tentu setiap orang bisa mengalami kenaikan penghasilan nan konsisten dan mengalahkan kenaikan inflasi tiap tahun.

Kenaikan nilai peralatan dan jasa juga tidak hanya bertindak pada peralatan alias jasa nan kita gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Melainkan juga nan berangkaian dengan style hidup serta medis.

Menjaga kesehatan arus kas dengan berfokus pada menambah penghasilan adalah langkah pandai nan bisa dilakukan di 2023, daripada hanya berhemat dan mengurangi pengeluaran nan tidak menjadi prioritas.

Tahun 2023 juga merupakan tahun politik lantaran di tahun 2024, masyarakat bakal merayakan pesta kerakyatan apalagi jika bukan pemilu. Anda pun bisa memanfaatkan momentum di masa kampanye, untuk mencari penghasilan tambahan.

Jangan pula membiarkan adanya inflasi berlebihan untuk pengeluaran style hidup bukanlah perihal nan bijak. Alangkah lebih kondusif bagi Anda untuk menjaga keamanan finansial Anda untuk saat ini dan masa depan.

Berinvestasilah sejak dini, untuk mewujudkan mimpi-mimpi Anda di masa depan. Pilihlah instrumen investasi dengan imbal hasil nan bisa mengalahkan inflasi serta pastikan bahwa penghasilan Anda terus bertambah setiap tahunnya.

Meningkatnya biaya medis juga bakal menjadi tantangan tersendiri bagi Anda ke depannya. Kenaikan biaya rawat inap, rawat jalan, dan pengobatan lainnya bisa sangat menguras tabungan.

Itu sebabnya krusial bagi Anda untuk mengamankan finansial sekarang juga dengan mempunyai asuransi kesehatan.

Era Suku kembang tinggi di 2023

Untuk meredam inflasi, teorinya adalah dengan meningkatkan suku bunga. Kenaikan suku kembang di tengah perekonomian nan tertekan juga bakal menimbulkan tantangan baru.

Proses pemulihan ekonomi tentunya bakal semakin susah lantaran daya beli masyarakat terhadap peralatan dan jasa nan diproduksi industri bisa saja merosot. Penurunan penjualan bisa saja memaksa industri untuk memangkas operasionalnya dan berujung kepada tindakan pemutusan hubungan kerja (PHK).

IMF sendiri telah memproyeksikan ekonomi dunia nan tumbuh 2,7% di tahun 2023. Jumlah ini dinilai turun dari 3,2% di tahun 2022.

Lantas apa berita dengan Indonesia?

Seperti diketahui, di 2022 Indonesia mengalami tren pertumbuhan ekonomi di atas 5% secara YoY. Kuartal I 2022 di 5%, kuartal II 2022 di 5,4%, dan kuartal III di 5,7%.

Adapun aspek nan mendukung pertumbuhan ekonomi ini ada pada kelonggaran kegiatan masyarakat dan ekspor komoditas.

Pemerintah RI juga cukup optimis terkait pertumbuhan di kuartal IV 2022. Laju pertumbuhan konsumsi diperkirakan tetap stabil dan berpotensi menguat lantaran adanya libur Nataru. Pemerintah pun yakin, pertumbuhan ekonomi Indonesia di sepanjang 2022 ada di kisaran 5,1-5,3%.

Meski demikian, Pemerintah RI menilai bahwa bakal ada sedikit perlambatan nan disebabkan oleh pelemahan ekonomi global. Bank Indonesia pun memprediksikan pertumbuhan ekonomi RI di 2023 di rentang 4,5 - 5,3%.

Apa nan kudu diwaspadai?

Terkait perencanaan finansial pribadi, perlambatan ekonomi di 2023 bisa saja memunculkan masalah nan berangkaian dengan keamanan penghasilan.

Risiko PHK tentu tetap menjadi momok nan cukup menakutkan bagi para karyawan. Sementara para pengusaha juga tetap bakal bergulat dengan kenaikan nilai produksi dan penjualan.

Penting sekali untuk mempunyai biaya darurat guna mengantisipasi ketidakpastian ekonomi ini. Di saat penghasilan berkurang alias hilang, kebutuhan hidup bakal tetap ada dan kudu dibayar.

Bagi karyawan, tidak ada salahnya untuk menyediakan tabungan biaya darurat minimal setara 6 kali pengeluaran bulanan.

Sementara bagi pengusaha, sediakanlah tabungan biaya darurat minimal setara satu tahun pengeluaran Anda. Pastikan pula bahwa upaya nan Anda jalani tetap bisa menghasilkan cash flow operasional nan positif.

Lunasi pulalah utang-utang konsumtif jangka pendek Anda, lantaran beban finansial ini bakal terus menciptakan pengeluaran pasif di kemudian hari. Hindarilah berutang untuk perihal nan berkarakter konsumtif alias nan bukan merupakan kebutuhan.

Bagi Anda nan mempunyai utang jangka panjang seperti KPR, KTA, dan lainnya, pertimbangkan pula opsi pelunasan sebagian guna meringankan beban utang.

Strategi investasi 2023

Dengan kondisi ekonomi nan cukup menantang, rumor geopolitik tetap berpotensi menciptakan perlambatan ekonomi di bumi ini. Harus dipahami, inflasi dan kenaikan tingkat suku kembang bakal menjadi akibat sistemik nan berakibat ke seluruh kelas aset.

Alangkah lebih baik untuk tidak terlalu garang di pasar modal. Investor perlu menjaga kesiapan cash dengan baik dan melakukan diversifikasi ke kelas aset nan berbeda.

Jangan mempersempit portofolio investasi Anda dengan hanya berinvestasi di saham. Karena perihal itu justru bakal meningkatkan akibat investasi Anda ke depan.

Dan tetap konsistenlah dalam menerapkan strategi goal based investing (investasi sesuai tujuan finansial) agar seluruh angan Anda bisa tercapai di masa depan.

Value stock & income stock

JP Morgan sebelumnya sempat mengatakan bahwa mereka telah memandang kesempatan emas saham-saham bervaluasi murah (value stock) di 2023. Hal itu disebabkan karena, growth stock dinilai cukup tinggi untuk saat ini.

Dengan adanya ramalan IMF seputar pertumbuhan ekonomi dunia nan sebesar 2,7% di 2023, pendapatan perusahaan-perusahaan pun diprediksi turun. Dan perihal tersebut tentu berimplikasi pada penurunan nilai sahamnya di bursa.

JP Morgan menilai saham-saham dengan pembagian dividen rutin (income stock) bisa menjadi pilihan nan tepat untuk saat ini. Adapun alasannya adalah lantaran dividen bisa mengkompensasi kerugian dari turunnya nilai saham.

Sementara itu, Credit Suisse menilai bahwa perusahaan-perusahaan alias sektor dengan penghasilan stabil, utang nan rendah, serta perusahaan nan mempunyai margin untung kotor dan bersih nan tinggi bakal menjadi pilihan tepat untuk berinvestasi di tahun ini.

SBN untuk diversifikasi investasi

Tingkat suku kembang nan tinggi umumnya bakal membikin nilai surat berbobot negara (SBN) jangka panjang semakin menurun. Ketika terjadi penurunan, maka yield SBN bakal meningkat.

SBN dengan yield di atas rata-rata inflasi tentu bisa berfaedah untuk mengamankan pertumbuhan nilai aset Anda di 2023.

Di awal 2023, Pemerintah Indonesia dikabarkan bakal merilis SBN Seri SBR012. SBR012 adalah jenis SBN nan berkarakter non-tradable (tidak bisa dijual di pasar sekunder), namun mempunyai kupon imbal hasil berkarakter melayang-layang dengan pemisah minimal.

Pemilihan SBR012 dinilai tepat di saat ini. Hal itu disebabkan lantaran dengan kupon mengambang, imbal hasil SBR012 juga bakal ikut naik saat Suku Bunga Acuan BI mengalami kenaikan.

SBR012 juga dilengkapi dengan fitur early redemption di mana penanammodal bisa mencairkan sebelum jatuh tempo, sesuai patokan nan berlaku.

Sebagai pengganti SBN, Anda juga bisa memilih reksa biaya pendapatan tetap jika Anda lebih suka dengan metode investasi berkala (dollar cost averaging).


[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Mau Kaya? Atur Dulu 6 Pos Keuangan Ini


(aak/aak)

Selengkapnya
Sumber Lifestyle Update 2023
Lifestyle Update 2023
Atas