Harga Minyak Turun Imbas Ketidakpastian Permintaan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Harga minyak dunia turun sekitar US$1 per barel pada perdagangan Kamis (29/12), waktu Amerika Serikat (AS), di tengah prospek permintaan yang tidak pasti. Harga minyak dunia turun sekitar US$1 per barel pada perdagangan Kamis (29/12), waktu Amerika Serikat (AS), di tengah prospek permintaan yang tidak pasti. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Agus Triyono).

Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia turun sekitar US$1 per barel pada akhir sesi perdagangan Kamis (29/12), waktu Amerika Serikat (AS), di tengah prospek ketidakpastian permintaan.

Hal ini disebabkan oleh pertimbangan banyak negara untuk kembali membatasi kunjungan wisatawan China akibat penyebaran covid-19 yang meluas di negara pengimpor minyak terbesar tersebut.

Tercatat, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menetap di US$78,40 per barel, turun US$1,13 per barel atau 0,7 persen.

Begitu juga dengan minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Februari turun US$1 atau 1,2 persen menjadi menetap di US$82,26 per barel.

Sebelumnya, pemerintah China memang memutuskan untuk melonggarkan kebijakan covid-19 nya di tengah lonjakan yang terjadi, sehingga banyak negara kembali memperketat aturan perjalanan, terutama pada turis yang datang dari Negeri Tirai bambu tersebut.

Saat ini, Inggris masih mengkaji apakah akan menerapkan pembatasan pada wisatawan China atau tidak. Sementara, Amerika Serikat, Jepang, India, dan Taiwan telah memberlakukan tes covid-19 pada wisatawan yang datang dari negara tersebut.

"Minyak mentah tertatih-tatih menjelang akhir tahun dalam perdagangan yang tipis karena pencabutan pembatasan covid-19 di China di tengah meroketnya kasus, dengan sedikit penguatan atau penurunan minyak mentah dalam laporan EIA hari ini," ujar Analis Minyak Utama Kpler Matt Smith, seperti dikutip Reuters, Jumat (30/12).

Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat pada pekan lalu, persediaan minyak mentah Negeri Paman Sam naik secara tak terduga imbas kenaikan permintaan impor di saat ekspor turun.

Giovanni Staunovo dari slope Swiss UBS mengatakan meskipun information tersebut mengejutkan, tetapi laporan yang disampaikan EIA itu bisa dikatakan positif karena menunjukkan rebound yang kuat dalam permintaan minyak di AS.

Analis Pasar Senior OANDA Craig Erlam mengatakan permintaan minyak mentah AS meningkat disebabkan oleh pelemahan dolar sehingga harga minyak menjadi relatif lebih murah bagi negara pemegang mata uang lainnya.

"Dengan begitu banyak bagian yang bergerak, saya rasa tidak ada yang bisa mengatakan apapun dengan tingkat keyakinan yang kuat," pungkas Erlam.

[Gambas:Video CNN]

(ldy/sfr)

Selengkapnya
Sumber Berita Terbaru - Trending 2023
Berita Terbaru - Trending 2023
Atas