Bermata Satu, Kakek Abbas Hidup Sendirian dari Menambal Panci | Drafmedia.com

Bermata Satu, Kakek Abbas Hidup Sendirian dari Menambal Panci | Drafmedia.com

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Siang itu bunyi besi-besi beradu menjadi tanda Kakek Abbas Sidayat (55) memanggil para pelanggan dan penduduk nan mau memantri panci-panci nan bolong. Namun saat Abbas terus menerus melangkah dengan barang-barang mematri nan dipikulnya tak satu pun jua ada penduduk nan memakai jasanya.

Zaman memang sudah berubah. Apalagi saat banyak orang mulai meninggalkan kompor minyak dan beranjak ke kompor gas. Tidak banyak panci-panci ibu-ibu nan bolong hingga butuh dipatri. Hilanglah sudah pelanggan nan dulu ada.

Kakek Abbas pun kudu menelan pil pahit ini. Sebenarnya ini kali kedua Kakek Abbas ditinggalkan para pelanggannnya saat kemampuannya mematri genting seng tidak lagi dimanfaatkan orang-orang lantaran nyaris tidak ada lagi penunggu nan mempunyai genting seng.

"Tambal panci dari 67, tapi bukan tambal panci dulu sih ngerjain talang-talang rumah sekarang talang-talang rumah nggak ada, ya terpaksa keliling. Kondisinya sekarang mah repot, sekarang mah nyari kerjaan nan kompor-kompor sudah jarang, ada sih saat mau hanya pas mau Hari Raya Lebaran itu. Panci tetap banyak hanya almunium tapi nggak bisa dipatri, kalis nggak nempel, selain jika stainless. Alhamdulilah jika stainless tembaga kuningan tetap bisa, dandang dulu khan tembaga kuningan kuningan bisa" jelas Kakek Abbas.

Dari hasil mematri tersebut, Kakek Abbas mematok nilai Rp 10-20 ribu tergantung besarnya lubang nan ditambal. Nasib penjualan Kakek Abbas sama mirisnya dengan kehidupan sehari-hari dirinya nan tinggal di rumah bedeng sewaan di daerah Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Pria asal Tasikmalaya ini kudu membagi hasil nafkahnya untuk membayar sewa sebesar Rp 350 ribu dan juga sisanya dia kirimkan ke family di Tasikmalaya.

Kini Kakek Abbas tidak bisa terus mengandalkan diri mencari nafkah dengan menjadi penambal panci keliling. Tubuhnya semakin renta dan sakit-sakitan karena jatuh dan penglihatan hanya maksimal di mata kanannya, sementara "Ai Bapak mah sakit pinggang jatuh dari pepohonan lagi nggak punya kayu bakar waktu itu terpaksa naik, jatuh jam dua, tadinya mau mangkas doang, ntar besok lagi, waktu naik jam 2 jatuh ingat ingat magrib mana jauh lagi. Sudah banyak kerja talang rumah dan pantulan panas matahari, keringat masuk dan asap ke mata," ucapnya lagi.

Walau derita terus menerus mendera dirinya, Kakek Abbas tahu dirinya tetap menjadi tumpuan untuk 6 anaknya di Tasikmalaya. Dia juga mempunyai mimpi nan besar untuk bisa ke Baitullah suatu saat nanti.

Atikah, salah satu pelanggan, berambisi Kakek Abbas sehat selalu dan bisa lancar pekerjaannya."Orangnya ramah baik, trus pendiam dan palling sabar, sering, bagus kualitasnya bisa dipercaya dan murah. Kasihan banget sudah tua dan nggak banyak keluarga, harapannya biar sehat selalu biar lancar sama kerjaannya," harapnya.

Atikah dan sahabat baik tentu mempunyai angan nan sama ialah mau kehidupan Kakek Abbas menjadi lebih baik. Kita bisa berbareng mewujudkan dengan Donasi di berbuatbaik.id. dari tim kami. Selain itu, bisa memantau informasi seputar kampanye sosial nan Anda ikuti, berikut update terkininya.

Jika berkeinginan lebih dalam berkontribusi di kampanye sosial, #sahabatbaik bisa mendaftar menjadi relawan. Kamu pun bisa mengikutsertakan organisasi dalam kampanye ini.

Yuk jadi #sahabatbaik dengan #berbuatbaik mulai hari ini, mulai sekarang!


[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)

Selengkapnya
Sumber Lifestyle Update 2023
Lifestyle Update 2023
Atas