'Berdamai' dengan Covid, Kegiatan Warga China Mulai Bergeliat | Drafmedia.com

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Penumpang naik kereta bawah tanah lantaran Beijing tidak lagi mewajibkan orang menunjukkan hasil tes masam nukleat negatif sebelum memasuki tempat umum pada 6 Desember 2022 di Beijing, China. (VCG/VCG via Getty Images) Foto: Penumpang naik kereta bawah tanah lantaran Beijing tidak lagi mewajibkan orang menunjukkan hasil tes masam nukleat negatif sebelum memasuki tempat umum pada 6 Desember 2022 di Beijing, China. (Getty Images/VCG)

Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat di beberapa kota utama China seperti Beijing, Shanghai, dan Wuhan dilaporkan memulai kembali kegiatan reguler pada Senin (2/1/2023). Mereka percaya bakal adanya peningkatan ekonomi berbarengan dengan banyaknya kasus pulih dari jangkitan Covid-19.

Reuters melaporkan mulai banyak masyarakat nan berkumpul untuk sekadar bermain alias berbincang di Taman Danau Shichahai, Beijing. Kebanyakan para pengunjung di sana sudah optimistis tentang pembukaan kembali negaranya.

Sebagaimana diketahui, pemerintah China membatalkan kebijakan nol-Covid nan ketat pada 7 Desember dan mengangkat strategi hidup berdampingan dengan virus tersebut. Namun setelahnya gelombang jangkitan sejak itu meletus secara nasional.

"Epidemi ... tidak memberi kami kesempatan untuk datang dan bermain," kata Yang, salah satu pengunjung taman. "Setelah berakhirnya penguncian ini, kami tidak perlu lagi memindai kode kesehatan dan juga tidak perlu memeriksa kode perjalanan. Jadi kami bebas sekarang."

Zhong, mahasiswa berumur 22 tahun, nan juga berada di waduk itu, mengatakan dia tidak meninggalkan rumah selama dua alias tiga minggu setelah dia terinfeksi.

"Sekarang saya bisa keluar dan ini waktu nan tepat untuk liburan Tahun Baru. Saya mau berkeliling di Beijing, memandang dan merasakan suasana pesta," katanya.

Meski ramai-ramai masyarakat memulai kembali kegiatan regulernya dengan memenuhi tempat-tempat umum, tetapi para pemilik upaya menyatakan kenaikan ekonominya tetap lambat di beberapa tempat nan lebih mini dan terbatas seperti restoran.

"Produksi pekerjaan, kehidupan, dan intermezo semuanya kembali ke tingkat normal," kata seorang laki-laki bermarga Wu, seorang tutor di pusat training pendidikan swasta. Ia menambahkan orang nan telah terinfeksi tidak lagi cemas.

Dalam beberapa hari terakhir, media pemerintah berupaya meyakinkan publik bahwa pandemi Covid-19 telah terkendali dan mendekati puncaknya.

Angka kematian resmi China 5.250 sejak pandemi dimulai dibandingkan dengan lebih dari 1 juta di Amerika Serikat (AS). Hong Kong nan dikuasai China, sebuah kota berpenduduk 7,4 juta, telah melaporkan lebih dari 11.000 kematian.

Sekitar 9.000 orang di China mungkin meninggal setiap hari akibat Covid, kata perusahaan informasi kesehatan Airfinity, nan berbasis di Inggris, pekan lalu.

Kematian kumulatif di China sejak 1 Desember mungkin mencapai 100.000, dengan jangkitan mencapai 18,6 juta, katanya. Airfinity memperkirakan jangkitan Covid di China mencapai puncak pertamanya pada 13 Januari, dengan 3,7 juta jangkitan setiap hari.

China mengatakan hanya menghitung kematian pasien Covid nan disebabkan oleh pneumonia dan kandas napas sebagai terkait Covid. Jumlah kematian nan relatif rendah juga tidak sejalan dengan lonjakan permintaan nan dilaporkan oleh rumah duka di beberapa kota.

Pencabutan pembatasan di China terjadi setelah protes nan meluas pada November. Ini telah membikin rumah sakit dan rumah duka kewalahan, di mana orang-orang nan diinfus di pinggir jalan dan antrian mobil jenazah di luar krematorium.


[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

WHO Tiba-Tiba Warning China, Ada Apa?


(luc/luc)

Selengkapnya
Sumber Lifestyle Update 2023
Lifestyle Update 2023
Atas