5 Ancaman Menakutkan di 2023, Nomor 4 Sudah Terjadi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Hari ini sudah memasuki tahun 2023. Berbagai kejadian di tahun lampau seperti perang Rusia-Ukraina dan penguncian Covid-19 di China telah membawa perekonomian bumi dalam jalur kerikil.

Lalu, gimana dengan tahun 2023? Apakah ekonomi bumi bakal melalui kerikil nan lebih berat?

Berikut lima ramalan ekonomi bumi di tahun 2023 seperti dikutip Al Jazeera, Minggu (30/12/2022).

1. Inflasi dan Suku Bunga

Inflasi diperkirakan bakal menurun secara dunia pada tahun 2023 tetapi tetap sangat tinggi. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan inflasi dunia bakal mencapai 6,5% tahun depan, turun dari 8,8% pada 2022.

Negara-negara berkembang diperkirakan bakal mengalami penurunan nan lebih sedikit, dengan inflasi diproyeksikan hanya turun menjadi 8,1% pada tahun 2023.

"Kemungkinan inflasi bakal tetap lebih tinggi dari 2 persen nan ditetapkan sebagian besar bank sentral Barat sebagai tolok ukur mereka," kata pengajar ekonomi senior di Universitas Sheffield Hallam, Alexander Tziamalis, kepada Al Jazeera.

"Energi dan bahan baku bakal tetap mahal untuk beberapa waktu. Pembalikan parsial globalisasi berfaedah impor nan lebih mahal, kekurangan tenaga kerja di banyak negara Barat menyebabkan produksi lebih mahal, dan langkah-langkah transisi hijau untuk memerangi ancaman terbesar nan dihadapi jenis kita semuanya mengarah pada inflasi nan lebih tinggi daripada nan biasa kita alami selama 2010-an," jelasnya.

2. Resesi

Sementara pertumbuhan nilai diperkirakan bakal mereda pada tahun 2023. Namun pertumbuhan ekonomi pasti bakal melambat tajam seiring dengan kenaikan suku bunga.

IMF memperkirakan ekonomi dunia bakal tumbuh hanya 2,7% pada 2023, turun dari 3,2% pada 2022. OECD memproyeksikan keahlian nan kurang tinggi tahun ini dengan pertumbuhan 2,2%, dibandingkan dengan 3,1% pada 2022.

Banyak ahli ekonomi lebih pesimis dan percaya resesi dunia kemungkinan besar terjadi pada tahun 2023, nyaris tiga tahun setelah penurunan nan disebabkan oleh pandemi.

Dalam sebuah tulisan bulan lalu, pemimpin redaksi The Economist, Zanny Minton Beddoes, melukiskan gambaran suram nan diringkas dengan titel tulisan nan tegas: "Mengapa resesi dunia tidak terhindarkan pada tahun 2023".

Bahkan jika ekonomi dunia secara teknis tidak jatuh ke dalam resesi, kepala ahli ekonomi IMF baru-baru ini memperingatkan bahwa tahun 2023 mungkin tetap terasa seperti satu untuk banyak orang lantaran kombinasi dari pertumbuhan nan melambat, nilai tinggi, dan kenaikan suku bunga.

"Tiga ekonomi terbesar, Amerika Serikat (AS), China, dan area euro, bakal terus terhenti," kata Pierre-Olivier Gourinchas pada Oktober. "Singkatnya, nan terburuk belum datang, dan bagi banyak orang, 2023 bakal terasa seperti resesi."

3. Pembukaan Kembali China

Setelah tiga tahun melakukan protokol penguncian dan pengetesan Covid-19 nan ketat, China awal bulan ini memulai proses melonggarkan kebijakan nol-Covid nan kontroversial setelah protes massal warga. Dengan pembatasan 'kejam' di dalam negeri nan sudah berlalu, perbatasan internasional China bakal dibuka kembali mulai 8 Januari.

Pembukaan kembali ekonomi terbesar kedua di dunia, nan telah melambat secara dramatis selama setahun terakhir, semestinya menyuntikkan momentum baru ke dalam pemulihan global. Rebound permintaan konsumen China bakal memberikan dorongan bagi eksportir utama seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura.

Sementara berakhirnya pembatasan menawarkan support kepada merek dunia dari Apple hingga Tesla nan mengalami gangguan berulang kali di bawah kebijakan nol-Covid. Pada saat nan sama, perubahan sigap ini membawa resiko nan mengintai.

Saat ini, rumah sakit di seluruh China telah dibanjiri pasien. Selain itu, bilik mayit dan krematorium dilaporkan kewalahan dengan masuknya jenazah.

Beberapa mahir medis memperkirakan bahwa China dapat memandang hingga 2 juta kematian dalam beberapa bulan mendatang. Selain itu, para mahir juga menyatakan keprihatinan tentang munculnya jenis baru nan lebih berbahaya.

"Kecuali pembukaan nan sangat mengganggu ini, saya pikir pasar bakal berkembang dengan baik," kata Kepala Ekonom Natixis untuk Asia Pasifik Alicia Garcia-Herrero.

"Saya bakal mengatakan begitu orang memandang ujung terowongan, jadi mungkin akhir Januari, akhir Tahun Baru China, saya beranggapan saat itulah pasar betul-betul bakal membaca pemulihan ekonomi China nan cepat," tambahnya.

4. Kebangkrutan Massal

Terlepas dari kehancuran ekonomi nan ditimbulkan oleh pandemi Covid-19, kebangkrutan sebenarnya menurun di banyak negara pada tahun 2020 dan 2021. Karena kombinasi pengaturan di luar pengadilan dengan kreditur dan stimulus pemerintah nan besar.

Di AS, misalnya, 16.140 upaya mengusulkan kebangkrutan pada tahun 2021, dan 22.391 upaya melakukannya pada tahun 2020. Ini lebih rendah dibandingkan dengan 22.910 pada tahun 2019.

Namun, tren itu diperkirakan bakal kembali berbalik pada tahun 2023 di tengah kenaikan nilai daya dan suku bunga. Allianz Trade memperkirakan bahwa kebangkrutan secara dunia bakal meningkat lebih dari 10% pada tahun 2022 dan 19% pada tahun 2023, melampaui tingkat sebelum pandemi.

"Pandemi Covid memaksa banyak upaya untuk mengambil pinjaman besar, memperburuk situasi ketergantungan nan meningkat pada pinjaman murah untuk menutupi hilangnya daya saing Barat lantaran globalisasi," kata Tziamalis.

5. Globalisasi Terganggu

Upaya untuk memutar kembali globalisasi tampaknya bakal terus bersambung di tahun 2023. Sejak diluncurkan di bawah pemerintahan Trump, perang perdagangan dan teknologi AS-China semakin dalam di bawah Presiden AS Joe Biden.

Pada bulan Agustus, Biden menandatangani CHIPS dan Science Act nan memblokir ekspor chip canggih dan peralatan manufaktur ke China. Ini bermaksud menghalang perkembangan industri semikonduktor China dan memperkuat swasembada dalam pembuatan chip.

Pengesahan undang-undang tersebut hanyalah contoh terbaru dari tren nan berkembang dari perdagangan bebas dan liberalisasi ekonomi menuju proteksionisme dan swasembada nan lebih besar, terutama di industri kritis nan terkait dengan keamanan nasional.

Dalam pidato awal bulan ini, Morris Chang, pendiri Perusahaan Manufaktur Semikonduktor Taiwan (TSMC), produsen chip terbesar di dunia, menyesalkan bahwa globalisasi dan perdagangan bebas telah berada dalam tahapan nan nyaris mati.

"Barat, dan khususnya AS, semakin terancam oleh lintasan ekonomi China dan merespons dengan tekanan ekonomi dan militer terhadap negara adikuasa nan baru muncul itu," kata Tziamalis.

"Perang langsung atas Taiwan sangat tidak mungkin tetapi impor nan lebih mahal dan pertumbuhan nan lebih lambat untuk semua negara nan terlibat dalam perang jual beli ini nyaris pasti," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Awas! Ancaman Ini Lebih Seram dari Resesi 2023


(fys/ayh)

Selengkapnya
Sumber Lifestyle Update 2023
Lifestyle Update 2023
Atas