2022 Kacau Balau, Derita Sektor Teknologi Akan Berlanjut? | Drafmedia.com

2022 Kacau Balau, Derita Sektor Teknologi Akan Berlanjut? | Drafmedia.com

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

infografis/Rilis Prospektus, Ini 6 Fakta Paling Menarik dari IPO GoTo Foto: infografis/Rilis Prospektus, Ini 6 Fakta Paling Menarik dari IPO GoTo/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun 2022 menjadi petaka bagi saham sektor teknologi di pasar modal. Sebelumnya, kala ekonomi dunia dibanjiri 'uang murah', penanammodal ramai-ramai memadati saham teknologi nan tumbuh cepat. Namun momentum segera berubah kala bank sentral AS mulai meningkatkan suku kembang referensi secara perlahan sejak awal tahun lalu.

Dari bursa domestik, sektor teknologi menjadi pemberat utama pertumbuhan return Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Mengutip informasi Bursa Efek Indonesia, Sepanjang 2022 sektor teknologi terpangkas nyaris setengahnya alias mengalami koreksi 42,61% dalam setahun.

Catatan jelek tersebut tercermin dari keahlian emiten eks startup yang langsung kehabisan bahan bakar pasca melantai di bursa. Saham Bukalapak.com (BUKA) dan GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) masing-masing telah ambles 69% dan 73% dari nilai penawaran umum perdana (IPO). Pelemahan kedua saham tersebut menghapus ratusan triliun dalam kapitalisasi pasar bursa domestik.

Sementara itu, kondisi lebih baik dicatatkan oleh dan induk Blibli ialah Global Digital Niaga (BELI) nan mana sejak IPO harganya naik tipis sebesar 4,44%. Hal ini salah satunya lantaran tidak banyak pihak nan mengendalikan perusahaan ini. Grup Djarum menguasai 83,69% saham BELI.

Kondisi nan sama juga terjadi di bursa dunia dengan saham-saham perusahaan teknologi raksasa seperti induk Facebook Meta Platforms Inc., Amazon.com Inc., Apple Inc., Netflix Inc. dan pemilik Google Alphabet Inc ikut mengalami pelemahan tahun lalu.

Saham Meta ambruk 64% pada tahun 2022; Netflix menurun 51%; tiga saham lainnya turun setidaknya 27%. Secara kolektif, saham FAANG melenyapkan lebih dari US$ 3 triliun dalam kapitalisasi pasar, menyeret turun pasar saham nan lebih luas. S&P 500 tahu lampau ambles 19%, tahun terburuk sejak krisis finansial 2008.

Era 'Uang Murah Berakhir'

Ketika suku kembang berada di level terendah, penanammodal lebih bersedia membayar saham dengan orientasi pertumbuhan dan aset berisiko untuk 'berjudi' demi memperoleh pengembalian (return) nan lebih tinggi. Tetapi dengan kenaikan suku kembang Fed pada laju tercepat sejak 1980-an, lampau diikuti bank sentral utama bumi lain, kondisi pasar modal berubah 180 derajat dengan penanammodal lebih memilih berinvestasi pada perusahaan dengan esensial bagus nan menghasilkan duit tunai bagi pemegang sahamnya sekarang, alias dikenal juga sebagai value stock.

Dari bursa domestik, ditopang oleh keahlian finansial mengkilap emiten batu bara, sektor daya menjadi pendorong utama penguatan IHSG tahun ini. Sepanjang tahun 2022, sektor daya tercatat menguat 100%. Hal nan sama terjadi di Wall Street, dengan sektor daya S&P 500 menguat 59% pada tahun 2022 lantaran perselisihan geopolitik membikin nilai komoditas daya melonjak pada kuartal pertama.

Selain itu saham-saham melindungi nan dikenal condong stabil terlepas dari kondisi pasar dan ekonomi, mengungguli keahlian indeks nan lebih luas. Sektor konsumen primer (non-siklikal) dan kesehatan tumbuh masing-masing 7,89% dan 10,20%, lebih tinggi dari IHSG nan menguat 4,09% dalam setahun.

Potensi di 2023 dan Tahun Selanjutnya

Ketika konsumen dan upaya mengencangkan ikat pinggang untuk menghadapi potensi resesi, perusahaan teknologi nan tampaknya kebal bakal krisis ekonomi selama pandemi sekarang telah merasakan pendapatan mereka melambat. Perusahaan raksasa dunia seperti Microsoft melaporkan hasil kuartalan terburuk mereka dalam beberapa tahun. Amazon dan Meta mengumumkan PHK.

Dari dalam negeri juga terlukis kondisi serupa, perusahaan publik eks stratup maupun nan tetap dalam proses rintisan, ramai-ramai mengurangi jumlah tenaga kerja demi mencapai tingkat profitabilitas secara lebih cepat.

GOTO mengumumkan PHK massal kepada 1.300 karyawan. Selin GOTO, e-commerce milik raksasa teknologi asal Singapura, Shopee, juga ikut melakukan PHK masal, apalagi dilakukan dalam tiga kali gelombang.

E-commerce lainnya ialah JD.ID juga telah melakukan PHK masal dan dikabarkan bakal menghentikan operasi di Indonesia.

Startup edtech juga mengalami nasib serupa, dengan Ruangguru, Pahamify dan Zenius telah mengumumkan PHK. Dari sektor fintech perusahaan ternama seperti Ajaib, LinkAja, Tanihub, Tokocrypto hingga Xendit ikut mengumumkan pemutusan hubungan kerja kepada sejumlah karyawannya.

Keputusan berat ini diambil, salah satunya lantaran keringnya modal swasta nan mulai mengukur langkah kala situasi ekonomi dunia semakin sulit. Alhasil tanpa guyuran biaya tak terbatas, perusahaan-perusahaan tersebut mau tidak mau ikut melangsingkan operasi demi menjaga biaya tetap rendah melalui PHK masal.

Tahun 2022, startup mengalami tahun nan suram nyaris di seluruh metrik, mulai dari investasi nan ambruk hingga banyaknya perusahaan nan kandas melakukan pencatatan publik, dengan informasi menunjukkan tahun 2023 kondisinya bisa jadi lebih sulit.

Akhir tahun lalu, para pendiri dan penanammodal startup semakin sengsara dengan nilai investasi nan jatuh signifikan serta sedikitnya kesempatan untuk mengubah ekuitas menjadi duit tunai.

Industri startup saat ini tengah menghadapi awal nan suram untuk tahun baru, termasuk tanda-tanda bahwa valuasi bakal semakin turun, menurut pandangan sejumlah pemodal ventura, bankir, dan manajer investasi.

Hal tersebut mengikuti apa nan telah terjadi pada perusahaan publik di sektor teknologi nan mengalami penurunan nilai saham signifikan, utamanya lantaran mengikisnya kepercayaan penanammodal serta pemangkasan eksposur di sektor teknologinya oleh sejumlah manajer investasi dan hedge fund sepanjang tahun 2022.

Meski tahun 2023 tetap menjadi tahun menantang, ada secercah angan nan menunggu di masa depan. Sejumlah analis percaya bahwa sektor teknologi diharapkan dapat kembali menjadi pemimpin pasar ketika Fed dan sejumlah bank sentral utama dunia mulai memangkas suku bunga, nan dia prediksi kemungkinan bakal terjadi pada tahun 2024.

Hal ini tentu dapat menciptakan potensi pembelian saham teknologi nan saat ini diperdagangkan di nilai rendah (buying the dip), mengikat di portofolio dalam jangka waktu nan lama, sembari bermohon The Fed segera menurunkan suku kembang dan membikin sektor teknologi kembali bullish.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Jika Harga BBM Jadi Naik, Saham Mana Yang Paling Terdampak?


(fsd/fsd)

Selengkapnya
Sumber Lifestyle Update 2023
Lifestyle Update 2023
Atas